Konferensi Asia Afrika, Sebuah Harapan Negara Dunia ke Tiga

Ini critanya migrasi tulisan dari blog lawas saya 🙂

Tulisan ini dimuat dalam rubrik Opini Publik SKH-Kedaulatan Rakyat Yogyakarta, 20 April 2005,    3 hari sebelum Konferensi Asia-Afrika di Bandung

Akhir April 2005 nanti tepat usia ke-50 Konferensi Asia Afrika (KKA), sebuah konferensi yang pada waktu itu tahun 1955 digagas atas dasar persamaan nasib negara-negara yang pernah dijajah oleh negara-negara kapital. Dalam sejarahnya KKA tak lepas dari Konferensi Colombo yang muncul atas inisiatif Sir John Kotewala yang diadakan pada akhir April 1955 di Sri Lanka. Semula gagasan Sir John adalah mengumpulkan empat negara tetangga yakni : Burma, Srilanka, Pakistan dan India. Mengapa empat negara tersebut, karena ke-empatnya mengalami persamaan nasib dan pengalaman yakni menjadi jajahan atau koloni Inggris yang telah habis beberapa tahun sebelumnya.

Pada awalnya Sir John tidak memiliki niatan untuk mengundang negara tetangga yang lain namun selanjutnya dia berpikir bahwa Indonesia telah berhasil mematahkan era kolonialisme Belanda dengan berbagai pengorbanannya. Dan akhirnya Indonesia menjadi Negara yang diundang dalam konferensi tersebut.  Dengan serta merta Soekarno yang pada waktu itu menjadi Presiden pertama Republik Indonesia (RI) menyambut baik undangan itu. Terlebih Soekarno telah memiliki impian sejak lama untuk menggabungkan dan memperluas gerakan Asia-Afrika. Impian Soekarno ini tak lepas dari inspirasi yang dia dapat saat membaca buku penulis Inggris yakni Lothrop Stoddard dalam bukunya yang berjudul “The Rising Tide of Colour”.

Dalam bukunya Stoddard menegaskan bahwa gerakan Asia-Afrika secara spiritual bergandengan tangan satu sama lain dan semua termotivasi memiliki insting untuk mempertahankan diri. Soekarno pada waktu itu memiliki pemikiran bahwa kalau dapat dibangkitkan jiwa Pan-Asianisme maka dampaknya akan memunculkan semangat nasionalisme bagi bangsa Indonesia. Alasannya adalah jiwa Pan-Asianisme memiliki persamaan nasib pernah mengalami penderitaan yang sama berada di bawah bendera koloni Negara-negara penjajah, tentu saja ini akan membangkitkan perasaan senasib dan nantinya persamaan ini akan dapat merumuskan sebuah persamaan sikap dan persamaan pergerakan (Dr.H Roeslan Abdul Gani, Media Work-Shop KTT Asia-Afrika dan Peringatan 50 tahun KKA Bandung, Deplu RI. (www.deplu.go.id) ) .

Tantangan terhadap semangat KKA I
Pada waktu itu KKA I mampu merumuskan beberapa hal penting yang menjadi komunike bersama Negara-negara peserta konferensi. Komunike inilah yang kita kenal dengan Dasa Sila Bandung (Ten Principles of Bandung). Dalam aspek sejarah, munculnya Dasa Sila Bandung memang dikarenakan dalam rangka penggalangan solidaritas dan semangat menentang imperialisme, kolonialisme serta mewujudkan perdamaian dunia sesuai situasi politik internasional waktu itu. Selaras dengan politik Indonesia yang kita kenal dengan bebas aktifnya dan tetap berorientasi pada kepentingan nasional dan Dasa Sila Bandung dapat dijadikan sebagai momentum peningkatan bargaining politik Internasional bagi Indonesia dibawah kepemimpinan Soekarno pada waktu itu.

Roh Dasa Sila Bandung sampai saat ini dirasa masih sangat relevan untuk diterapkan kepada Negara-negara Asia-Afrika terutama dalam aspek hidup berdampingan secara damai dan saling menghormati satu sama lain. Namun pada perjalanannya ternyata semangat yang tumbuh dalam KKA I dihadapkan pada tantangan yang cukup berat, terutama menghadapi “monster” yang diberi nama globalisasi. Hal ini sedikit banyak telah disinggung oleh mantan Presiden Megawati Soekarnoputri ketika membuka Konferensi Organisasi-organisasi Sub Regional Asia Afrika di Bandung tanggal 23 Juli 2003 lalu. Dikatakan dalam pidatonya bahwa, negara-negara Asia-Afrika saat ini tidak lagi berjuang melawan imperialisme dan kolonialisme, melainkan melawan hambatan serius pembangunan, beban utang, ketidakmampuan bersaing di pasar dunia dan keterpinggiran dalam proses globalisasi.

Penjajahan tidak lagi dalam bentuk fisik, namun pemaksaan yang mengharuskan adanya pasar bebas, demokrasi dan hak asasi manusia di setiap Negara, sementara kesenjangan antara negara dunia ketiga dan negara maju masih amat jauh.  Ternyata “penjajahan” dalam bentuk baru inilah yang sekarang baru dialami Negara-negara dunia ke tiga yang kebetulan Negara dunia ke tiga banyak terdapat di semenanjung Asia dan Afrika. Namun seperti sudah memiliki prediksi ke depan, pada waktu itu Presiden Soekarno yang berpidato pada pembukaan KKA I tahun 1955 di Bandung mengatakan “supaya tidak sekedar memandang kolonialisme dalam bentuk klasik, namun juga dalam bentuk baru, dalam bentuk kontrol ekonomi, kontrol intelektual dan kontrol fisik”.

Kenyataan pahit Negara-negara mantan jajahan rezim kolonial agaknya sudah tidak relevan jika tetap dijadikan sebuah semangat atau dasar dalam membangun sebuah komunike bersama antar Negara Asia-Afrika saat ini. Tetapi lebih daripada itu dalam konteks ke-kinian semuanya dihadapkan pada tantangan besar untuk membangun sebuah komunike bersama yang konkrit dan dapat menguntungkan kedudukan Negara Asia-Afrika baik dalam percaturan politik Internasional maupun secara ekonomi, misalnya saja dengan membahas isu-isu yang lebih konkrit seperti, perdagangan bebas, hutang, atau pembangunan bagi Negara-negara dunia ke tiga termasuk Indonesia. Isu-isu inilah yang seharusnya diblow-up ke depan bagi Negara-negara Asia-Afrika untuk lebih memiliki focus dalam langkah selanjutnya.

Sementara itu isu-isu lain yang digembar-gemborkan oleh Negara-negara Kapital seperti Amerika Serikat agaknya dan diramalkan masih akan dibahas pada KKA April 2005 nanti yakni tidak jauh-jauh dari permasalahan terorisme. Negara-negara di Asia dan Afrika termasuk Indonesia, dianggap menjadi tempat berkembang biak teroris internasional sehingga dijatuhkan berbagai sanksi internasional. “Pemerintah AS menerapkan apa yang disebut ‘Safe Guard Policy’. Semua peraturan ini adalah sistem proteksi yang secara langsung dapat digunakan dan berubah menjadi varian-varian kendala politik ‘mainstream’ AS,” kata Alfian Muthalib, pengamat politik internasional dari Unas Jakarta(www.hariansib.com).

Asia-Afrika ke depannya
Perubahan yang terjadi dalam kepentingan Negara-negara Asia Afrika sebagaimana dikutip dari web site KOMPAS (www.kompas.com) setidaknya terbagi ke dalam tiga hal yakni : Ekonomi dan pembangunan, perdamaian dan keamanan global, khususnya terorisme, restrukturisasi politik global (Anak Agung Banyu Perwita Ph.D, Dasa Sila Bandung dan Kemitraan Strategis Baru (www.sinarharapan.co.id) ). Artinya jelas, bahwa artinya ada frame berpikir yang konkrit yang seharusnya dimiliki oleh Negara-negara Asia Afrika. Hal itu semata-mata untuk memperjelas langkah bersama bagi kemajuan bangsa-bangsa di semenanjung Asia dan Afrika. Dan pada akhirnya kita semua berharap bahwa KKA yang akan diselenggarakan pada 23-24 April 2005 mendatang dapat membawa perubahan positif yang signifikan dan konkrit, khususnya bagi Indonesia untuk dapat memperkuat bargaining politik internasional yang berimbas pada kesejahteraan masyarakat. Semoga.

Iklan

About teezarav

I'd like to make people comfortable and happy

Posted on Januari 1, 2013, in Pengetahuan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: