Monthly Archives: Januari 2013

Kumpul Keluarga desa Pondowan di Akhir Tahun

Sintesa Islam Klasik dan Modern Dalam Dialog Budaya

Sejak risalah Islam diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. + 14 abad yang lalu, ia telah menunjukkan keajaiban yang sangat mengesankan, berhasil menata masyarakat adil-makmur yang diridhai Allah SWT. Islam juga kemudian menunjukkan obor peradaban dan kebudayaandunia massa itu. Selama kurun waktu yang panjang itu jugalah Islam telah membebaskan manusia dari kungkungan nafsu-snafus hewaniah, sekarangpun tetap merupakan satu-satunya harapan ummat manusia untuk hal itu, yang akan mengarahkannya mencapai taraf kejiwaan yang lebih tinggi.

Biarlah tak seorang pun yang mungkin berani mengtakan bahwa kebangkitan iSlam itu tidak mungkin dan merupakan usaha yang sia-sia, karena zaman dulu pun Islam telah membuktikan bahwa ia mampu mengangkat derajat manusia dari derajat yang rendah (kegelapan). Sesuatu yang sudah pernah terjadi dimasa lampau, akan bisa saja terjadi  pula di masa sekarang, karena manusia dalam sikap dan tingkah lakunya tidak pernah mengalami perubahan apa pun sejak setelah itu. Pada saat zaman dulu, keanusiaan telah tenggelam bergelimang di dalam kenikmatan-kenikmatan indrawi, sebagaimana agaknya sekarang. Apa ada perbedaan antara zaman lampau dengan zaman sekarang, kecuali dalam kemewahan dan bentuk-bentuk kasatmatanya saja. Dari segi moral, kebejatan Romawi kuno berpasangan dengan Paris, london dan kota-kota besar di Amerika. Dalam perspektif sejarah inilah, maka Islam dinyatakan kepada dunia. Untuk mengadakan perubahan menyeluruh, mengengkat  manusia dari jurang kegelapan ke arah kehidupan yang cerah dan mulia. Akan tetapi, tatkala ummat ini tidak lagi mencerminkan nilai-nilai Islam dalam hidupnya, maka berlakulah hukum Allah yang akan membuat sirna segala kejayaan dan kekuassan serta merubah mereka menjadi budak-budak nafsunya sendiri.

Islam yang diwahyukan bagi ummat manusia melalui masyarakat Arab yang waktu itu terutama terdiri dari orang-orang Badui yang berwatak kasar dan bengis, seperti dikatakan di dalam Al Qur’an tentangnya: ” orang-orang Badui adalah orang-orang yang sangat munafik dan ingkar “. Tetapi Islam telah mampu untuk membawa mereka menuju suatu pintu pencerahan menuju hidup yang cerah dan mulia, hal itu merupakan suatu gambaran jelas tentang kemampuan Islam dalam masa awal keberadaannya (Islam Klasik)yang menakjubkan dalam mengadabkan ummat manusia dan menyucikan jiwanya.

Tetapi Islam juga tidak sekedar puas dengan penyucian jiwa. Ia selalu mengambil segala bentuk peradaban yang merebut kepentingan umum dewasa ini, yang oleh sebagian orang dianggap sebagai inti kehidupan. Islam memajukan dan menunjang peradaban segala negeri yang telah ditaklukkannya selama peradabannya itu tidak bertentangan dengan monotheisme, dan selama tidak membelokkan ummat manusia dari menjalankan amal

Ø      Sikap Islam Klasik dan Kontemporer Mengenai Peradaban Islam 

A.     Sikap Islam Klasik Terhadap Peradaban Islam Saat Ini

Wacana Islam Klasik bergulir dari sejak pada mulanya nabi Muhammad hingga

+ pada saat berakhirnya renaisance ( masa kgelapan),.jadi dalam penjabarannya mungkin akan lebih bersifat normatif, statis.misalnya dalam menyikapi berbagai masalah kehidupan engan adanya. hal itu disebabkan antara lain, bahwa pada saat itu keadaan Islam belum seperti keadaan sekarang ini, ketika kita bisa dengan mudahnya melaksanakan ibadah tanpa gangguan siapapun. Selain itu, sikap atau peradaban daripada Islam Klasik jga dipengaruhi oleh letak geografis dari tanah Arab, watak orang, dan dipengaruhi oleh pemikiran ahli-ahli pada saat itu.

B.     Sikap Islam Kontemporer Terhadap Peradaban Islam Saat Ini

Sikap Islam terhadap saat ini sama dengan yang telah ditunjukkannya terhadap setiap peradaban masa lampau. Islam menerima segala yang baik dari perdaban-peradaban itu, tetapi serempak dengan itu ia menolak segala yang buruk daripadanya. Islam tidak pernah menganjurkan sesuatu sikapisolasionisme ilmiah ataupun materialistik. Islam tidak memerangi peradaban lain demi pertimbangan pribadi atau rasial, karena Islam percaya akan kesatuannya kemanusiaan dan eratnya hubungan antara ummat manuisa dengan ras dan kecenderungannya yang berbeda-bda itu.

Yang perlu kita garis bawahi ialah bahwa Islam tidak menentang penemuan-penemuan modern, begitu pula kaum Muslimin tidak menuntut agar semua alat dan perkakas bertatahkan tulisan :“Dengan nama Allah Yang Pemurah lagi Maha Penyayang”. Karena bagaimana pun juga, alat-alat itu tidak mempunyai sesuatu agama atau tanah air pun, tetapi cara dan niat penggunannya akan mempunyai pengaruh terhadap semua ummat manusia di atas muka bumi.

Misalnya Bioskop juga suatu penemuan modern.saudara akan menjadi seorang Muslim yang baik kalau menggunakan film itu untuk memotret emosi yang bersih, watak yang mulia atau untuk melukiskan pertentangan di antara ummat manusia demi kebaikan. Tetapi bukanlah Muslim yang baik jika saudara menggunakannya untuk memamerkan percabulan, nafsu yang liar atau segala macam kebusukan moral, intelektual atau spiritual. Bukan hanya di bidang ilmu pengetahuan Islam menunjukkan sikap keterbukaan. Dalam hal hukum misalnya saja dalam hukum Islam memang menggariskan adanya hukum mati ( dalam konsep hukum qisas) adanya ketentuan ini tentunya tidak harus dipahami secara “statis”, artinya dalam zaman kontemporer di beberapa negara yang tidak menyepakati adanya hukuman mati, maka hukuman yang lain dapat saja diberlakukan. Inti dari hukuman mati dalam Qisas adalah bagaimana hal itu dapat memberikan hukuman yang setimpal balasannya bagi pelaku kejahatan serta agar perbutan itu tidak berulang lagi. Bila inti dari hukman mati itu sdah dapat dicapai oleh sistem hukuman tanpa hukuman mati, maka hal itu tidak jadi masalah. Berikut juga misalnya pementasan wayang orang yang bagi sebgian orang dianggap sebagai bagian dari ajaran agama Hindu dan karena itu ummat Islam tidak diperbolehkan untuk melihat, mengerti ataupun menikmati hal itu. Fenomena seperti tersebut sangat disayangkan karena seperti di paparkan di atas bahwa Islam sangat terbuka terhadap apa yang baik-baik walaupun itu diambil dari suatu kepercayaan di luar Islam selama hal itu tidak bertentangan dengan yang telah diatur dalam ajaran Islam serta hal itu untuk kepentingan ummat.

Dalam Al Qur’an surat Ali Imran : 14

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda piihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.

Dari pernyataan di atas menurut Islam, orang yang suka kepada 6(enam) halkesenangan hidup di dunia tersebut tidaklah tercela, karena itu memang sudah merupakan fitrah dan ghazirah (naluri) dari manusia.

Tetapi Islam bukan saja dengan lapang tangan untuk memberikan keterbukaan, dalam hal ini mengambil kebaikannya saja, namun juga dengan memperhatikan nilai-nilai yang telah ditegaskan dal Al Qur’an maupun Hadist.

Misalnya fenomena yang hingga kini masih banyak diperdebatkan, yaitu mengenai pengenaan Jilbab bagi kaum muslimah. Hal ini banyak di pautkan dengan nilai religiusitas, nilai kesopanan, nilai kerapian hingga nilai keamanan atau keselamatan. Bila ditilik dari sudut historisitas, pengenaan Jilbab bagi kaum muslimah. Pertama, di dasari oleh karena struktur geografis alam Arab yang memang akhirnya membentk budaya atau kebiasaan bagi mereka kaum wanitanya untuk mengenakan Jilbab. Kedua, memang dalam Islam di himbau bagi kaum muslimah untuk memanjangkan Jilbab, sebagai wujud religiusitas. Namun yang perlu kita garis bawahi, yaitu bahwa pengenaan Jilbab memang mau diakui atau tidak mempunyai manfaat yang besar bagi kaum muslimah, baik untuk menambah rasa iman, juga untuk menjaga diri dari fitnah dan perbuatan kerusakan. Tetapi pengenaan Jilbab janganlah lalu dianggap secara “parsial” yaitu dengan hanya menjilbabi wujud fisiknya saja tapi juga wujud rohani karena itu merupakan inti dari pemakaian Jilbab untuk muslimah.

C.     Kesimpulan

Dari Pernyataan di atas, maka menurut saya tidak terlalu ada ataupun sangat tidak signifikan perubahan pandangan dari masa “Islam Klasik dan Islam Kontemporer”, karena Islam tidak menentang peradaban itu selama peradaban itu mengabdi kepada kemanusiaan. Tetapi jika peradaban itu menyengsarakan hidup ummat serta keluar dari jalur kemanuisaan, maka Islam akan berjuang melawan apa yang dinamakan peradaban serupa itu.

Gerakan Islam modern harus menghimpun kekuatan dengan mempelajari masa lampau. Akar kebudayaan dan peradaban Islam  di dapat dari suatu tujuan untuk dapat membawa ummat manusia ke arah yang lebih maju dan keselamatan. Islam memperhatikan segala bentuk hubungan yang mengikat manusia di segala bidang mengaturnya dengan hukum Islam dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ada beberapa penjelasan pokok yang dapat diambil dari penjelasan di atas , antara lain:

Ø      Pertama : Harus dipahami benar-benar bahwa Islam bukan sekadar ideologis. Islam juga merupakan sistem kehidupan praktis yang sepenuhnya tanggap akan segala kebutuhan pokok ummat manusia.

Ø      Kedua : Dalam usah memenuhi tuntutan dasar ummat manusia, Islam mewujudkan perimbangan yang sempurna sejauh batas-batas sifat manusia mengizinkannya. Islam berjalan untuk mencapai keseimbangan di antara kebutuhan pribadi dan kebutuhan yag bersifat kemasyarakatan.

Ø      Ketiga : Haruslah selalu diingat bahwa Islam mempunyai eksistensi tersendiri sebagai suatu sistem filsafat, sosial maupun ekonomi, yang tidak sama, tidak dipengaruhi dan tidak meniru yang lain.

Bila kita simak kembali pernytaan di atas maka bukan saja tidak kita ketemukan perbedaan signifikan antar peradaban baik dizaman Islam Klasik maupun Islam Kontemporer, tapi malah sebaliknya akan terbentuk suatu kesimpulan yang menunjukkan bahwa mungkin kedua istilah tersebut bisa dianggap tidak ada, hal itu dalam arti tujuan dari peradaban tesebut.

Zaman Islam, masih di tengah jalan dan belum berakhir. Ia bukan merupakan kekuatan yang terhambur tersia-sia, melainkan merupakan suatu kekuatan penggerak yang hidup. Sudah saatnya bagi ummat Islam untuk bisa meninggalkan perdebatan-perdebatan panjang yang sifatnya tidak esential. Semoga peradaban Islam hari depannya secerah kejayaan masa lampaunya. Ammien…

Konferensi Asia Afrika, Sebuah Harapan Negara Dunia ke Tiga

Ini critanya migrasi tulisan dari blog lawas saya 🙂

Tulisan ini dimuat dalam rubrik Opini Publik SKH-Kedaulatan Rakyat Yogyakarta, 20 April 2005,    3 hari sebelum Konferensi Asia-Afrika di Bandung

Akhir April 2005 nanti tepat usia ke-50 Konferensi Asia Afrika (KKA), sebuah konferensi yang pada waktu itu tahun 1955 digagas atas dasar persamaan nasib negara-negara yang pernah dijajah oleh negara-negara kapital. Dalam sejarahnya KKA tak lepas dari Konferensi Colombo yang muncul atas inisiatif Sir John Kotewala yang diadakan pada akhir April 1955 di Sri Lanka. Semula gagasan Sir John adalah mengumpulkan empat negara tetangga yakni : Burma, Srilanka, Pakistan dan India. Mengapa empat negara tersebut, karena ke-empatnya mengalami persamaan nasib dan pengalaman yakni menjadi jajahan atau koloni Inggris yang telah habis beberapa tahun sebelumnya.

Pada awalnya Sir John tidak memiliki niatan untuk mengundang negara tetangga yang lain namun selanjutnya dia berpikir bahwa Indonesia telah berhasil mematahkan era kolonialisme Belanda dengan berbagai pengorbanannya. Dan akhirnya Indonesia menjadi Negara yang diundang dalam konferensi tersebut.  Dengan serta merta Soekarno yang pada waktu itu menjadi Presiden pertama Republik Indonesia (RI) menyambut baik undangan itu. Terlebih Soekarno telah memiliki impian sejak lama untuk menggabungkan dan memperluas gerakan Asia-Afrika. Impian Soekarno ini tak lepas dari inspirasi yang dia dapat saat membaca buku penulis Inggris yakni Lothrop Stoddard dalam bukunya yang berjudul “The Rising Tide of Colour”.

Dalam bukunya Stoddard menegaskan bahwa gerakan Asia-Afrika secara spiritual bergandengan tangan satu sama lain dan semua termotivasi memiliki insting untuk mempertahankan diri. Soekarno pada waktu itu memiliki pemikiran bahwa kalau dapat dibangkitkan jiwa Pan-Asianisme maka dampaknya akan memunculkan semangat nasionalisme bagi bangsa Indonesia. Alasannya adalah jiwa Pan-Asianisme memiliki persamaan nasib pernah mengalami penderitaan yang sama berada di bawah bendera koloni Negara-negara penjajah, tentu saja ini akan membangkitkan perasaan senasib dan nantinya persamaan ini akan dapat merumuskan sebuah persamaan sikap dan persamaan pergerakan (Dr.H Roeslan Abdul Gani, Media Work-Shop KTT Asia-Afrika dan Peringatan 50 tahun KKA Bandung, Deplu RI. (www.deplu.go.id) ) .

Tantangan terhadap semangat KKA I
Pada waktu itu KKA I mampu merumuskan beberapa hal penting yang menjadi komunike bersama Negara-negara peserta konferensi. Komunike inilah yang kita kenal dengan Dasa Sila Bandung (Ten Principles of Bandung). Dalam aspek sejarah, munculnya Dasa Sila Bandung memang dikarenakan dalam rangka penggalangan solidaritas dan semangat menentang imperialisme, kolonialisme serta mewujudkan perdamaian dunia sesuai situasi politik internasional waktu itu. Selaras dengan politik Indonesia yang kita kenal dengan bebas aktifnya dan tetap berorientasi pada kepentingan nasional dan Dasa Sila Bandung dapat dijadikan sebagai momentum peningkatan bargaining politik Internasional bagi Indonesia dibawah kepemimpinan Soekarno pada waktu itu.

Roh Dasa Sila Bandung sampai saat ini dirasa masih sangat relevan untuk diterapkan kepada Negara-negara Asia-Afrika terutama dalam aspek hidup berdampingan secara damai dan saling menghormati satu sama lain. Namun pada perjalanannya ternyata semangat yang tumbuh dalam KKA I dihadapkan pada tantangan yang cukup berat, terutama menghadapi “monster” yang diberi nama globalisasi. Hal ini sedikit banyak telah disinggung oleh mantan Presiden Megawati Soekarnoputri ketika membuka Konferensi Organisasi-organisasi Sub Regional Asia Afrika di Bandung tanggal 23 Juli 2003 lalu. Dikatakan dalam pidatonya bahwa, negara-negara Asia-Afrika saat ini tidak lagi berjuang melawan imperialisme dan kolonialisme, melainkan melawan hambatan serius pembangunan, beban utang, ketidakmampuan bersaing di pasar dunia dan keterpinggiran dalam proses globalisasi.

Penjajahan tidak lagi dalam bentuk fisik, namun pemaksaan yang mengharuskan adanya pasar bebas, demokrasi dan hak asasi manusia di setiap Negara, sementara kesenjangan antara negara dunia ketiga dan negara maju masih amat jauh.  Ternyata “penjajahan” dalam bentuk baru inilah yang sekarang baru dialami Negara-negara dunia ke tiga yang kebetulan Negara dunia ke tiga banyak terdapat di semenanjung Asia dan Afrika. Namun seperti sudah memiliki prediksi ke depan, pada waktu itu Presiden Soekarno yang berpidato pada pembukaan KKA I tahun 1955 di Bandung mengatakan “supaya tidak sekedar memandang kolonialisme dalam bentuk klasik, namun juga dalam bentuk baru, dalam bentuk kontrol ekonomi, kontrol intelektual dan kontrol fisik”.

Kenyataan pahit Negara-negara mantan jajahan rezim kolonial agaknya sudah tidak relevan jika tetap dijadikan sebuah semangat atau dasar dalam membangun sebuah komunike bersama antar Negara Asia-Afrika saat ini. Tetapi lebih daripada itu dalam konteks ke-kinian semuanya dihadapkan pada tantangan besar untuk membangun sebuah komunike bersama yang konkrit dan dapat menguntungkan kedudukan Negara Asia-Afrika baik dalam percaturan politik Internasional maupun secara ekonomi, misalnya saja dengan membahas isu-isu yang lebih konkrit seperti, perdagangan bebas, hutang, atau pembangunan bagi Negara-negara dunia ke tiga termasuk Indonesia. Isu-isu inilah yang seharusnya diblow-up ke depan bagi Negara-negara Asia-Afrika untuk lebih memiliki focus dalam langkah selanjutnya.

Sementara itu isu-isu lain yang digembar-gemborkan oleh Negara-negara Kapital seperti Amerika Serikat agaknya dan diramalkan masih akan dibahas pada KKA April 2005 nanti yakni tidak jauh-jauh dari permasalahan terorisme. Negara-negara di Asia dan Afrika termasuk Indonesia, dianggap menjadi tempat berkembang biak teroris internasional sehingga dijatuhkan berbagai sanksi internasional. “Pemerintah AS menerapkan apa yang disebut ‘Safe Guard Policy’. Semua peraturan ini adalah sistem proteksi yang secara langsung dapat digunakan dan berubah menjadi varian-varian kendala politik ‘mainstream’ AS,” kata Alfian Muthalib, pengamat politik internasional dari Unas Jakarta(www.hariansib.com).

Asia-Afrika ke depannya
Perubahan yang terjadi dalam kepentingan Negara-negara Asia Afrika sebagaimana dikutip dari web site KOMPAS (www.kompas.com) setidaknya terbagi ke dalam tiga hal yakni : Ekonomi dan pembangunan, perdamaian dan keamanan global, khususnya terorisme, restrukturisasi politik global (Anak Agung Banyu Perwita Ph.D, Dasa Sila Bandung dan Kemitraan Strategis Baru (www.sinarharapan.co.id) ). Artinya jelas, bahwa artinya ada frame berpikir yang konkrit yang seharusnya dimiliki oleh Negara-negara Asia Afrika. Hal itu semata-mata untuk memperjelas langkah bersama bagi kemajuan bangsa-bangsa di semenanjung Asia dan Afrika. Dan pada akhirnya kita semua berharap bahwa KKA yang akan diselenggarakan pada 23-24 April 2005 mendatang dapat membawa perubahan positif yang signifikan dan konkrit, khususnya bagi Indonesia untuk dapat memperkuat bargaining politik internasional yang berimbas pada kesejahteraan masyarakat. Semoga.