Monthly Archives: November 2011

Guru

Saya sama sekali lupa jika hari ini adalah hari guru, yang saya ingat hari guru itu sama dengan hari pendidikan yang jatuh setiap tanggal 2 Mei..hehe. Saya baru ingat hari ini hari guru karena memandang time line kawan kawan di twitter bahwa hari ini hari guru, mm..satu lagi manfaat social media, sebagai pengingat.

Mari kita sedikit melakukan pengembaraan berpikir ttg makna guru. Kata guru berasal dari bahasa sansekerta, yg artinya pengajar suatu ilmu. Mengambil filosofi Hindu dan Budha, guru merupakan simbol bagi suatu tempat suci yang berisi ilmu (vidya) dan juga pembagi ilmu. Seorang guru adalah pemandu spiritual/kejiwaan murid-muridnya, seorang guru adalah orang yang memandu muridnya dalam jalan menuju kebenaran. Begitu penting peranan guru dalam filosofi dua keyakinan tadi untuk membawa orang orang disekelilingnya kepada kebaikan.

Bagaimana dalam perspektif Islam? Sewaktu Allah menurunkan Al-quran kemuka bumi ini, Allahpun langsung menurunkan PERAGA nya. Dalam hal ini , peraga dalam Al-quran adalah Nabi Muhammad S.A.W. Dan semua tindakan , ucapan,serta petunjuk nabi harus kita ikuti dan itu biasa kita sebut dengan Hadish Nabi. Sehingga ada pendapat dari sebagian ulama bahwa nabi Muhammad S.A.W adalah Al-quran berjalan. Dengan kata lain, Rasulullah saat itu menjadi Guru bagi umat pada masanya dan masa kini.

Begitu penting maanfaat guru bagi kehidupan kita, maka lewat blog ini saya cuma pengen mengingatkan bahwa dari kita kecil pasti banyak guru guru yang terlibat dalam pembentukan karakter kita baik secara sadar maupun tidak sadar. Dan oleh karenanya, mari kita mendoakan para guru kita semoga mereka bisa tetap amanah dijalannya, untuk mencetak kader yang kelak berguna bagi nusa dan bangsa 🙂

Sebuah Kritik Terhadap Media

Media itu secara harfiah kan tempat..fungsinya pun banyak..tempat
menaruh, tempat menuangkan, tempat untuk tau, tempat untuk orang bisa
tau..banyak lah.

Karena fungsinya banyak, tentu saja dia akan bersentuhan dengan banyak
pihak. Pihak2 ini lah yg bisa menentukan media/tempat ini difungsikan
utk hal hal yg sifatnya kebaikan atau semi kebaikan, atau malah yg
tidak baik. Itu filosofinya 🙂

Lantas berbicara bagaimana baiknya media itu. Media itu sejatinya
berbicara di ruang publik dan bukan ruang privat. Kalo ngliat isi
media saat ini kita ga bisa bedain apakah ini berita utk ruang publik
atau privat, semuanya dihajar, padahal kita tau berita berita yg nggak
baik itu memang harusnya ada di ruang privat. Itu satu.

Yg kedua, media itu sifatnya menghantarkan data data yg publik ga tau
utk jadi tau. Artinya jika dia sebagai penghantar yg baik, maka dia
sendiri juga harus tau data apa yg dia bawa utk bisa dihadirkan ke
ruang publik dan otomatis fungsi media juga bertambah sebagai filter
data yg layak disampaikan kepada publik. Nah, paramater di dalam hal
ini sifatnya sangat subyektif maka daripada itu diperlukan
independensi yg sangat dari media itu. Tetapi independensi itu
haruslah berpihak pada asas kemanfaatan dan kebaikan bagi publik.

Ketiga, bagaimana kalo kita mengambil manfaat Al Quran..Al Quran
adalah pembawa kebenaran dan membawa berita gembira. Bisakah media
menyampaikan satu kebenaran yg bermanfaat yang mencerahkan dan
menggembirakan bagi publik?

hehehe #UII dan #HMI-nya ngga ilang booo
🙂

Al Ghazali: Keraguan Awal dari Keyakinan

Buku ini sebenernya udah aku beli 2 tahun yang lalu, tapi 2 minggu lalu buku ini menemaniku dalam perjalanan tugas kantor ke Bandung, Semarang, Medan dan Makassar..hmm..long distance and but short trip 😉

Siapa sebenarnya Al-Ghazali??dia adalah ulama besar pada masanya. Kitab yang sangat terkenal “Ihya Ulumidin”. Bahkan Ds.Zwemmer seorang orientalis menempatkan Al-Ghazali sebagai ulama terpandang sepanjang masa. Ihya Ulumudin adalah kitab yang sangat komprehensif membicarakan Syariah dan Fiqh (kata buku ini), coz aku jg lom pernah baca langsung.

Dan dalam hal ini,Himawijaya selaku sang penulis memang pandai memilih tata bahasa. Dengan segmentasi anak muda, dia menggunakan bahasa-bahasa yang kata anak muda “bahasa gaul”. Melalui pendekatan yang membumi bagi anak muda, tasawuf, sufi, metode epistimologi jadi terasa mengasyikan untuk di eksplorasi.

So, kayanya buku ini cocok buat kamu sebagai penghantar dalam mendalami agama Islam 😉